Dan akhirnya aku kembali ke kota kelahiranku Palu ngataku. Namun, kepulanganku kali ini dalam keadaan duka dan keprihatinan yang mendalam. Pada 28 September 2018 tepatnya sekitar jam 6 sore waktu setempat, Palu terguncang begitu dahsyat. Aku yang saat itu sedang melaksanakan praktek profesi psikologi klinis di RSJI Klender ikut gundah gulana hatinya ketika mendengar kabar tersebut. Beberapa kerabat menghubungiku untuk menanyakan kabar keluargaku di Palu. Sedangkan aku, dengan Handphone yang tidak henti-henti mencoba menghubungi Ibuku di rumah yakni Palu namun tidak kunjung tersambung karena listrik dan jaringan di Palu terputus. Dan setelah 2 hari akhirnya bisa terhubung, namun Ibuku yang memang sedikit kocak malah tertawa diujung telepon sana. Sebenarnya lega namun ikut bingung. Ibuku yang kupanggil Mama, beliau memang selalu seperti itu. Ketika terhubung tentu saja dengan nada khawatir aku bertanya bagaimana keadaannya, namun dengan tertawa beliau menjawab bahwa dirinya baik-baik saja dan merasa seru karena berkumpul dengan para tetangga di tenda pegungsian di depan rumah. Kata beliau sepertinya ini jadi ajang kumpul-kumpul semakin akrab dengan orang-orang sekitar bahkan yang dari jauh ikut gabung di tenda pengungsian dan makan bersama serta masak-masak. Baginya ini adalah sebuah piknik, padahal aku hampir tidak bisa tidur memikirkan kodisi beliau. Namun dibalik itu aku merasa bangga dan senang dengan pola pikir beliau sehingga tidak mudah tertekan dan mampu menikmati hal tersebut. Saat itu saya ingin segera pulang dan sekalian menjadi tim relawan untuk Palu dengan keberangkatan Hercules, namun kegiatan praktek profesi di RSJI tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Beruntungnya melalui saya bisa bergabung menjadi tim relawan psikososial Palu di akhir bulan Desember 2018. Akhirnya saya pun kembali untuk berbagi dengan saudara di Palu. Disela-sela setelah kegiatan, saya menyempatkan diri untuk pulang ke rumah yang memang dekat dengan bandara. Begitu shocknya saya ketika melihat kondisi rumah yang sudah banyak retakan-retakan dan dalam hati sangat bersyukur Mama tidak apa-apa karena pada saat kejadian beliau memang sedang disebuah acara syukuran dan dari cerita beliau katanya sampai berguling-guling karena gempanya seperti mengayun. Saya membayangkan menjadi sedikit lucu namun tetap khawatir.
Ketika melihat daerah taman ria dan sepanjang jalan depan Grand Mall, saya makin berpikir betapa kecil dan lemahnya kita didunia ini dan memang harus banyak bersyukur pada Sang Pencipta yang Maha Pemilik kehidupan kita. Tanpa Dia apalah kita ini, dihembuskan dan sirna. Apa yang kita cari didunia memang seharusnya semata-mata untuk kemuliaanNya karena dalam sedetik tanpa Dia apalah artinya kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar