Ketika ada warga Indonesia dinyatakan positif Corona di Depok, saat itu saya dan teman lainnya mulai yakin bahwa ini adalah masalah serius. Saya ke swalayan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari dan ternyata barang-batang cukup banyak yang habis. Rak-rak kosong dan antrian panjang. Saya masih berpikir bahwa mungkin saat itu habis gajian. Setelah ngobrol dengan ibu-ibu dan bapak satpam swalayan, saya baru paham bahwa mulai terjadi kepanikan hingga masyarakat berbelanja tidak terkendali. Saya hanya berpikir sesaat apakah saya perlu pulang ke Sulawesi, tapi saya berpikir untuk apa. Meski dinyatakan lockdown, teman-teman saya masih banyak yang lalu lalalng Jakarta ke kota lainnya. Namun saya berpikir akan risiko saya membawa pulang penyakit. Oleh karena itu, saya memutuskan ngadem ayem di kos saja dengan teman-teman kos yang tidak terlalu saya kenal.
Sudah sebulan lamanya dan saya menyadari bahwa saya membutuhkan lingkungan meski sedikit jenuh diam di rumah namun sepertinya ada kenyamanan tapi saya rindu bertemu sapa langsung dengan orang lain meski via online tiap hari ada teman ngobrol tapi rasanya berbeda. Dan lucunya saya semakin rajin main tiktok, ya aplikasi yang di tahun sebelumnya menurut saya agak menggerakkan karena terlalu mengekspose diri karena sebelumnya banyak orang menggunakan tiktok benar-benar hanya untuk memasang wajahnya.
Banyak yang menilai saya sebagai orang yang sangat terbuka, tapi saya kurang nyaman mengekspose diri di dunia maya. Rasanya asing ketika orang lain menanyakan diri saya di dunia sosial secara umum. Saya lebih senang berinteraksi via Whatsapp dan status yang sering saya update pun adalah whatsapp karena menurut saya disanalah orang yang saya kenal. Mungkin saya akan nampak sombong, padahal aslinya saya hanya agak kikuk saja berasa di dunia maya. Mungkin ini sebabnya saya kesulitan mencari kenalan lakik via online dan memang saya jarang kenalan dengan orang lain bila itu diluar instansi atau lingkungan pergaulan saya. Intinya cukup pemilih dalam bergaul dengan orang baru meski saya memiliki minat dalam membangun interaksi dengan orang lain. Satu sisi saya ingin terlihat kalem karena terlalu sering mendengar komentar orang lain yang menyatakan saya pecicilan padahal saya hanya banyak gerak saja. Hanya saja, ketika saya berusaha berdiam diri dan tidak berinteraksi dengan orang seperti masa karantina ini, saya merasa energi saya masih penuh terus menerus sehingga kesulitan beristirahat dimalam hari. Rasanya seperti sedang sugar rush.
Akhirnya energi yang biasanya saya gunakan untuk bersosialisasi dengan orang lain di luar rumah kugunakan untuk memberikan kamar dan menemukan foto kenangan.
Melihat foto lama membuatku kembali kemasa lalu dimana banyak hal yang aku syukuri. Seperti perasaan jatuh cinta berkali-kali. Kangen Mama dengan rambut pendeknya yang sekarang sudah panjang sekali.
Yang pasti aku sayang mereka berdua. Mama yang pemarah tapi lucu sebenarnya kalau marah dan Papa yang keliatan tidak bisa marah dan memang jarang marah tapi kalau beneran marah serem. Mereka berdua jodoh sesungguhnya karena saling melengkapi dengan sifat dan sikap yang berbeda tapi saling paham sisi kurang dan lebihnya.
Saya tidak bisa memilih terlahir dari orang tua mana dan siapa, mereka adalah berkat pertama dalam kehidupanku oleh Tuhan. Semoga Mama panjang umur ya dan Papa bahagia disana doakan kami.
Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar