Dulu sewaktu masa SD sampai SMA, orang tuaku mencoba memasukkan saya ke tempat les. Entah les dari sekolah atau dari luar sekolah seperti yayasan pelatihan atau les apa pun. Tapi saya yang memang bawaannya males dulu merasa tidak tertarik dan memilih bobo siang. Kadang ada perasaan menyesal dulu tak mau mengikuti les seperti itu karena merasa mendapatkan tugas dan waktu belajar yang semakin panjang. Walaupun tidak mau mengikuti les, tapi nilai saya di sekolah baik-baik saja dan tetap mendapat juara kelas walau bukan juara 1. Tapi saya termasuk anak yang mudah puas dan cenderung kurang peduli. Orang tuaku juga bukan orang tua yang mewajibkan anaknya juara meski kami 4 bersaudara rata2 mendapatkan juara. Kakak pertama dan keduaku termasuk murid yang cukup cerdas seperti kakak keduaku yang sering jauara 1. Tapi kami sekua tidak ada yang ikut les di luar. Kedua orang tua kami bekerja sehingga setiap kami pulang sekolah tidak ada yang mengawasi untuk mengerjakan PR maupun tugas rutin di rumah. Kakak pertama kami adalah contoh bagi kami, ketika dia mengerjakan tugas maka kami ikut mengerjakan dan seperti itu. Setiap penerimaan raport, orang tuaku cukup berbeda dengan orang tua lainnya. Tidak pernah marah-marah maupun memeriksa ada nilai yang turun atau bagaimana. Dahulu saya merasa kurang diperhatikan, namun setelah beranjak dewasa saya memahami mereka tidak ingin menekan anaknya.
Kembali mengenai les, akhirnya saya menyicipi bangku les ketika lulus SMA dan gagal masuk PTN yang saya inginkan. Akhirnya, saya menunda perkuliahan dan malah masuk ke les-an untuk persiapan SNMPTN atau SPMB dan sekarang namanya entah apa. Beberapa bulan ternyata asik sampai pada akhirnya saya lulus di PTN Jawa Tengah. Setelah lulus S1, saya menyadari bahasa Inggris dibutuhkan maka saya mengambil kursus bahasa dan menikmati waktu bermain sambil belajar. Saya anaknya ternyata menyukai bermainnya dari pada belajarnya.
Terkadang banyak anak-anak dipaksa untuk mengambil les maupun kursus untuk meningkatkan kemampuan mereka oleh orang tua. Ada yang ikut dengan sepenuh hati dan ada yang tertekan atau ada yang ikut aja untuk bertemu teman-temannya. Apa pun itu, saya harap anak-anak, orang tua dan penyedia pendidikan formal dan informal semakin bersinergi untuk memfasilitasi setiap anak dan memberikan pemahaman kepada anak untuk mampu mengembangkan diri dan menikmati setiap tahap perkembangannya.
Kalau saya punya anak nanti mungkin saya akan membantu dia untuk dapat menemukan passionnya sedini mungkin semoga tanpa menekan dan memberi kebebasan kepadanya. Oleh karena itu, saya juga perlu menyiapkan dana yang cukup untuk anak-anakku nanti dan mencari suami yang tepat. Apa hubungannya? Banyak hubungannya 🤣
Tidak ada komentar:
Posting Komentar