Perawan Tua?
Konon katanya perempuan kalau telat nikah disebut perawan tua. Lucunya sekarang nyari anak perempuan yang beneran perawan sudah langka. Semoga para gadis tetap menjaga keperawanannya sebagai bentuk menghargai dirinya sendiri.
Katanya kalau perempuan sudah berumur dan belum menikah biasanya jadi galak efek hormonal akibat hasrat seksualnya tidak tersalurkan dan faktor psikologis yang tidak memiliki pasangan. Nyatanya, aku perempuan 30 tahun saat ini dan belum menikah serta belum memiliki calon suami tapi menurutku diriku tidak galak palingan galau. Mungkin bentuk kegalauan orang itu yang berbeda-beda. Atau galau karena akibat bawaan hormon dan tak memiliki pasangan. Tindakan galau setiap orang bisa saja berbeda. Ada yang jadi sering termenung, ada yang jadi suka marah-marah dan uring-uringan, ada yang jadi cari perhatian, ada yang jadi suka belanja, dan ada yang mencari pembenaran dan banyak hal lainnya. Mungkin aku termasuk pada golongan yang mencari pembenaran diri. Bisa kita perhalus menjadi seseorang yang mencari dukungan.
Banyak teman yang seumuran dan belum menikah berkata mereka bahagia meski belum memiliki pasangan dan sudah tidak memikirkan keinginan untuk mencari pasangan dan beranggapan tak perlu mencari pasangan lagi karena nanti akan datang dengan sendirinya jika memang sudah jodoh. Ada sis yang kuterima dan ada yang tidak. Karena aku memegang kalimat : Ora et Labora, bekerja sambil berdoa. Menurutku, aku juga memerlukan usaha untuk bertemu jodoh, meskipun benar adanya jodoh pasti akan datang tapi aku juga butuh bertindak agar dilayakkan mendapatkan jodoh yang sesuai harapan dengan memperbaiki diri dan memperluas jaringan.
Tapi sayangnya, setiap meminta kekenalan untuk mencarikanku jodoh malah dijawab: Jodoh tak perlu dicari nanti datang sendiri. Dalam hatiku, apakah aku sekurang menjual itu untuk diperkenalkan dengan teman mereka? Padahal permintaanku hanya diperkenalkan dengan orang yang beragama Katolik aja loh. Apa mereka tidak punya teman Katolik? Atau aku tidak menarik dan tidak cocok dikenalkan dengan teman mereka? Malu aku jadinya. Tapi tenang saja, aku tidak sesedih dan menyedihkan itu kok. Masih banyak teman-teman yang menemani. Tapi aku sadar, aku butuh pendamping. Secara sendiri itu menyenangkan, tapi lebih menyenangkan jika ada pasangan yang bisa saling lebih membahagiakan. Saling membahagiakan loh yak. Aku juga tak mau jika punya pasangan malah semakin membuat ribet. Tapi katanya punya pasangan itu juga akan meribetkan tapi pundak yang menanggung lebih banyak "KATANYA".
Beberapa teman yang hobi curhat, kebanyakan curhat pahit-pahit pernikahan diawal pernikahannya. Sekarang setelah mereka sudah memiliki anak dan anak-anak, kebanyakan dari mereka terlihat lebih dewasa dan intensitas curhatnya berkurang. Mungkin sudah mulai bisa beradaptasi atau semakin bijak memilah hal yang bisa dicurhatkan atau memang penuh kebahagiaan dan semoga bukan karena malu.
Namun ada hal yang aku tangkap selama men-Jomblo.
Kelebihan:
1. Bebas berteman dengan siapa saja. Setiap malam minggu saya bebas memilih dengan siapa pergi dan kemana saja.
2. Pengeluaran hanya untuk diri sendiri. Ya meskipun perempuan, kalau memiliki pasangan juga bukan berarti kita setiap jalan dibayarin melulu donk, harus gantian. Ingat anak orang itu bukan pabrik uang.
3. Waktu untuk diri sendiri lebih banyak. Meski banyak yang menilai aku sebagai seorang ekstrovert, nyatanya aku senang berada di kamar sendiri sambil nonton drama korea.
4. Bisa lebih fokus pada apa yang diinginkan. Punya pasangan yang memberi kebebasan tentu menyenangkan. Tapi ada hal-hal yang perlu kita jaga seperti, kita tidak bisa seenaknya pergi atau mengambil pekerjaan ke luar kota atau yang memakan waktu terlalu lama dll.
5. Lebih banyak waktu untuk orang tua dan keluarga. Ya meski ketika punya pasangan kita harus tetap menjaga dan memberi waktu untuk orang tua dan keluarga, namun ketika single aka jomblo pasti waktu menelepon kita ke orang tua dan curhat kita bisa lebih banyak jika memang kita dekat dengan orang tua ya.
Selain punya kelebihan, jomblo punya kekurangan. Tapi dibawah ini bukan buat yang jomblo tapi yang belum menikah. Belum menikah juga jomblo. Jomblo juga belum menikah.
Kekurangan:
1. Tidur sendirian. Buat yang masih tidur sama orang tua atau saudara atau teman sekamar mungkin beda cerita. Tapi anak rantau yang kos sendiri itu berasa apa lagi masa corona karantina ini semakin terasa tidur ditemani bantal yang tak bersuara dan dipeluk dingin. Ini bukan untuk jomblo tapi untuk yang belum menikah.
2. Teman Curhat. Meski jomblo, kita bisa curhat dengan teman atau orang tua. Tapi ada kalanya kita membutuhkan diskusi mendalam. Kalau punya suami kan enak bisa curcol sambil bobo dan dipuk-puk. Curhat sama teman enak tapi puk-puknya beda. Kalau sama orang tua, beberapa hal jangan sampai membuat mereka malah lebih cemas.
3. Belum bertemu teman berjuang mencapai visi misi dihari tua. Setidaknya sama suami bisa ngomongin mau punya anak berapa, disekolahin dimana, kita mau tinggal dimana, beli aset dimana saja, dll. Amin
4. Banyak hal lainnya, tapi sulit dituliskan dengan kata karena nanti jatuhnya menjurus.
Tapi intinya, mau belum menikah atau sudah menikah, dunia tetap berputar dan kita harus terus menjalani hidup ini sebaik-baiknya. Kalau lelah, sesaat boleh istirahat sejenak. Jangan putus asa dan tetap berusaha.
Usaha yang sudah saya lakukan adalah berusaha membuka diri kepada orang lain meski masih belajar.
Semangat.
Jadilah single terhormat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar